Dompet Dhuafa Jajaki Kerjasama Jangka Panjang dengan Lembaga Kemanusiaan Di Suriah

Damaskus –- Meluasnya spektrum aktor yang berkonflik di Suriah, membuat kerja kemanusiaan yang dilakukan harus prudent. Selain faktor keamanan bagi tim kemanusiaan yang diturunkan, hal lain adalah memastikan bahwa bantuan yang diberikan tidak semakin memantik konflik yang lebih besar. Maka dari itu, pemilihan mitra lokal menjadi salah satu titik fokus kerja Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk Suriah.

Saat berita ini diturunkan, Dompet Dhuafa sedang menjajaki kerjasama dengan beberapa lembaga kemanusiaan di Suriah. “Ada beberapa yang rencana kami temui. Seperti Syrian Arab Red Crescent, lalu Sheikh Ahmad Kuftaro Foundation, dan Yayasan al-Ifaf pimpinan Dr. Hani Sya’al,” tandas Arif R. Haryono, ketua Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk Suriah.

Seperti informasi yang disampaikan dari pihak KBRI Damaskus. Dalam kondisi konflik bersenjata yang masih tinggi seperti saat ini, sangat tidak memungkinkan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Suriah tanpa adanya ijin dari pemerintah Suriah sebagai negara berdaulat. “Bahkan organisasi tingkat dunia seperti PBB pun, ketika ingin menyalurkan bantuan harus tetap berkoordinasi dengan pemerintah Suriah,” demikian dituturkan Dubes RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, kepada Arif R. Haryono dari Dompet Dhuafa.

Ketika memilih mitra lokal dalam penyaluran program kemanusiaan di Suriah, Dompet Dhuafa mengedepankan prinsip netralitas, imparsial dan tidak terkait dengan aktor-aktor yang berkonflik. Hal ini penting agar bantuan yang disalurkan diberikan dengan tepat bagi yang membutuhkan, yaitu korban perang Suriah.

“Kami ingin menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Suriah yang masih bertahan di dalam negerinya. Langkah ini merupakan pengembangan program kemanusiaan yang telah Dompet Dhuafa lakukan kepada pengungsi di perbatasan Suriah,” tegas Arif R. Haryono.

Saat ini yang menjadi persoalan pelik pengungsi di dalam negeri Suriah selain pasokan bahan makanan adalah musim dingin yang cukup ekstrim. Hal ini diperparah dengan pasokan listrik yang terbatas dan air minum yang tersendat. (Dompet Dhuafa/Arif RH)

Share This Post: