Ibu Ari Berjuang demi Keluarga dan Akidah

Sidoarjo(16/12/2016)–Bapak Heru Fanustyo Bactiar (43 th) telah menderita penyakit stroke selama 3 tahun. Akibat dari sakit yang dideritannya, Bapak Heru tidak dapat berjalan dan bekerja untuk menafkahi keluarganya. Selama 3 tahun pula, Ibu Ari Yuli Purwaningtyas (41 th) menjadi kepala keluarga menggantikan suaminya. Sehari-hari Ibu Yuli berjualan nasi bungkus untuk dititip-titipkan di warung sekitar lingkungannya tiap pagi dengan keuntungan bersih sekitar Rp. 450.000 s/d 600.000.

Pak Heru dan Ibu Ari saat ini tiggal di kotrakan sederhana bersama seorang putrinya Nasyila Arsy Wulandari (10 th) yang saat ini masih duduk di kelas 6 SD. Sementara Putrinya yang lain Sheila Rosalina Virnatia (18 th) telah berkeluarga dan sudah tidak tinggal bersama. Setiap bulan Ibu Ari harus membayar Rp. 400.000 untuk membayar kontrakannya. Dengan pendapatan dari berjualan nasi bungkus, sekedar untuk membayar biaya kontrakan pasti berat bagi Ibu Ari. Selain itu biaya untuk pengobatan Pak Heru juga tidak sedikit. Sebenarnya Ibu Ari sekeluarga telah memiliki asuransi BPJS Kesehatan, namun karena menunggak selama sembilan bulan, asuransi tersebut tidak dapat digunakan.

Ada hikmah dibalik semua peristiwa, demikian juga yang dialami Ibu Ari dan suaminya. Pak Heru mendapatkan merasa hidayah setelah mendapat cobaan sakit. Sebelum sakit Ia tidak pernah menjalankan sholat, namun saat ini Pak Heru tidak pernah luput dari melakukan sholat, bahkan tahajud pun tidak pernah ketinggalan meskipun Pak Heru hanya bisa sholat dengan duduk. Lain cerita dengan Ibu Ari, sejak 20 tahun yang lalu Ia mumutuskan untuk hijrah memeluk agama Islam dari keyakinan sebelumnya. Ibu Ari berkeyakinan bahwa Islamlah jalan yang Tuhan pilih untuknya. Walaupun diantara semua saudaranya hanya Ibu Ari yang beragama Islam, Ibu Ari tetap teguh mempertahankan imannya. Dalam keadaan yang serba kukurangan, saudara-saudaranya sering mengajak beliau untuk kembali ke keyakinannya yg dulu namun Ibu Ari teguh terhadap imannya.

Dengan semangat #TerimaKasihIbu Dompet Dhuafa Jawa Timur memberikan bantuan modal usaha kepada Ibu Ari. Bantuan modal diberikan agar Ibu Ari dapat menambah dagangannya. Sebelumnya, Ibu Ari memasak dan menjual nasi bungkus satu kali sehari pada pagi hari. Dengan tambahan modal, Ibu Ari berharap dapat membuat nasi bungkus pada pagi dan sore hari sehingga dapat menambah pendapatannya. Dompet Dhuafa Jawa Timur juga melakukan pelunasan semua tunggakan BPJS Kesehatan keluarga Ibu Ari agar suaminya dapat berobat dengan lancar tanpa memikirkan bagaimana harus membayarnya.

Ibu Ari adalah salah satu dari Ibu yang rela berjuang demi keluarganya. Saat suaminya tidak berdaya terhadap penyakitnya, Ia rela mengganikan posisinya sebagai keluarga lengkap dengan tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya. Sebagai muallaf, Ibu Ari tidak pernah sedikitpun menyesali hijrahnya memeluk Islam meskipun di keyakinannya yang dulu hidupnya sudah terjamin. Meskipun saudara-saudaranya mengajak untuk kembali ke keyakinan yang dulu dengan godaan materi yang akan didapatnya, Ibu Ari tidak sedikitpun terfikir untuk keluar dari iman Islam. Sebagai muslim, cerita Ibu Ari mengingatkan bahwa banyak Ibu Ari yang lain yang perlu untuk dibantu. Bagaimnana tidak, seseorang dapat menjadi murtad dalam keadaan ekonomi yang sangat mendesak bila sesama muslim tidak membantu.

Share This Post: