Kini Pak Artanto Dan Bu Dinik Tak Perlu Menjual Aset Untuk Makan

Ibu Dinik Maulidya (43 th) dan suaminya Bapak Artanto (45 th) harus menanggung beban yang cukup berat tiap harinya. Dengan berjualan es tebu, tentunya penghasilan Pak Artanto tidak dapat menutupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dengan delapan orang anak mereka, mulai sulung Putri Syah (14 th) sampai dengan bungsu Mia Rahmah (1 th). Walaupun serba terbatas, semua anak Pak Artanto berusia sekolah dapat bersekolah semua. Untuk tempat tinggal, saat ini keluarga Pak Artanto ikut tinggal di rumah adikya.

Kebutuhan bulanan keluarga Pak Artanto sangat banyak sebanding dengan jumlah anggota keluarga. Misal untuk kebutuhan beras akan menghabiskan 2 kg beras/ hari. Belum termasuk sayur dan uang saku anak sekolah. Jangankan susu untuk anak yang bayi, bahkan untuk membeli beras mereka terkadang kesulitan. Pada kondisi tertentu, pasangan suami-istri ini sering berpuasa karena lebih mementingkan kebutuhan semua anak-anaknya.

Dahulu, Bu Dinik memperoleh pendapatan dari berjualan nasi bebek, namun karena kehabisan modal, Ia tidak bisa berjualan kembali. Saat, ini Ia biasa dimintai tolong mengantar-jemput anak tetangganya pada hari-hari tertentu. Sedangkan Pak Artanto diberi oleh temannya mesin giling tebu yang kemudian digunakan untuk berjualan es tebu. Kawan Pak Artanto ini prihatin dengan kondisi Pak Artanto yang dahulu hanya buruh serabutan.
Ketika keadaan mendesak, tak jarang mereka menjual asset mereka termasuk tabung LPG 3 kilo sehingga Bu Dinik harus memasak menggunakan kayu bakar setiap hari. Belum lagi sepeda pemberian kawan yang terjual untuk membeli beras. Penderitaan Pak Artanto sekeluarga bertambah kala mereka hidup tiga bulan terakhir tanpa aliran listrik karena menunggak tagihan. Selama keadaan tanpa listrik, keluarga Pak Artanto menggunakan lampu darurat yang diisi dayanya (di-charge) di rumah tetangga.

Prihatin dengan kondisi keluarga Pak Artanto, Dompet Dhuafa Jatim menyalurkan bantuan modal serta sembako untuk menjamin pangan keluarga Pak Artanto selama beberapa bulan ke depan. Sedangkan bantuan modal akan digunakan Bu Dinik untuk kembali berjualan nasi bebek seperti dahulu. Ibu Dinik berharap dapat berjualan kembali sehingga bisa membantu mencukupi makan keluarganya. Walau dalam keadaan serba sulit, Pak Artanto dan Bu Dinik selalu bersyukur dan berusaha taat dalam beribadah. Hal ini juga yang mereka ajarkan ke anak-anaknya agar selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah semata. (RIZZQI/DDJatim)

Share This Post: