Zakat Anda bagi Mereka -Gerobak Baru Bu Yuli-

Masih ingat Bu Yuli, penerima manfaat Program Kartu Ukhuwah Keluarga yang mendapatkan bantuan sembako setiap bulan serta pembinaan?. Ya, Bu Yuli yang sehari-hari berjualan rujak cingur dan mengelola warung “giras”-nya merasa sangat terbantu dengan batuan sembako yang didapatkan setiap bulannya. Dengan penghasilan tidak memadai dari kedua usahanya itu karena sepi, Bu Yuli kesulitan memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apalagi suaminya yang berprofesi sebagai penarik angkot tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga karena sedikitnya penumpang. Merasa ada perlu adanya peningkatan, Dompet Dhuafa Jatim memberikan bantuan gerobak untuknya berjualan nasi campur agar lebih memadai.

Cerita bermula saat Bapak Mat Ichsan, suami Bu Yuli yang dulu berprofesi sebagai sopir angkot sudah tidak menarik angkot milik majikannya karena sepi penumpang dan sering kali tidak mendapatkan keuntungan, bahkan sering kali merugi. Berfikir keras untuk membuat dapurnya tetap mengepul, Ibu Yuli berkeinginan menambah penghasilannya dengan berjualan nasi campur di tempat lain. Dengan bantuan modal dari Dompet Dhuafa Jatim, Ibu Yuli membuka warung nasi di dekat Mall Pasar Atum Surabaya dengan lapak sederhana. Dengan berjualan nasi campur Bu Yuli merasa ada sedikit tambahan untuk msksn keluarganya selain penghasilan dari girasnya yang baru dibuka sepulang dari berjualan nasi. Berjalan selama beberapa bulan, akhirnya lapak kaki lima Bu Yuli terpaksa harus tutup karena dikategorikan liar dan harus ditertibkan. Dengan berdasar rasa patuh, akhirnya Bu Yuli memindahkan lapak nasi campurnya ke warung girasnya.

Berpindah dari lapak kaki lima ke warung giras, Bu Yuli merasa tempatnya kurang memadai dan kurang rapi untuk berjualan nasi campur. Sedikit berantakan dan kurang higienis, mungkin kesan pembeli ketika hendak membeli. Beruntung, Dompet Dhuafa Jatim memberikan gerobak untuk Bu Yuli untuk menunjang dagangannya. Bu Yuli bercerita, beberapa waktu setelah serah terima, gerobak pemberian untuk Bu Yuli sempat sedikit rusak dan dengan inisiatif sendiri Bu Yuli memperbaiki dan memberinya cat pada gagangnya. “Saya las dan cat sedikit mas di gagang dan rangkanya, kemarin sempat copot setelah serah terima”, ujar Bu Yuli kepada pendamping program Dompet Dhuafa Jatim.

Selama menggunakan gerobak dari Dompet Dhuafa Jatim yang diberi nama “Warung Bang Sidiq” oleh Tim Program Dompet Dhuafa Jatim, Bu Yuli merasa terbantu karena lapak yang sebelumnya berbentuk meja seluas 1 x 1 m2 dirasanya kurang memadai, selain itu tempatnya berjualan yang di pinggi jalan membuat makanan tidak higienis karena tercemar asap dan debu dari orang yang lalu-lalang. Gerobak Bang Sidiq yang yang tertutup dan rapi dirasa Bu Yuli mampu membuat dagangannya sedikit “naik kelas” karena terlihat rapi dan higienis. “Sekarang banyak orang yang setiap lewat mesti melihat ke sini mas, seringkali mereka mampir untuk membeli. Mungkin karena terlihat ya”.

Sekarang, Bu Yuli merasa bersyukur dengan sedikit perubahan setelah mendapatkan gerobak “Warung Bang Sidiq” baru yang dirasanya mampu menaikkan daya jual produknya. Saat ini, suami Bu Yuli yang tidak lagi menarik angkot membantu Bu Yuli berdagang nasi campur dan rujak cingur sembari mengelola warung girasnya. “Alhamduillah, sekarang saya punya usaha berjualan nasi campur dan rujak cingur dengan gerobak baru yang lebih baik, alhadulillah pula giras saya tetap berjalan”. InsyaAllah Bu Yuli juga akan memberikan infaq dari keuntungannya kepada Dompet Dhuafa Jatim.

Share This Post: